Senin, 23 Oktober 2017

PENDADARAN

Foto 1 : Persiapan Sebelum Mulai Pendadaran

Jum’at, 29 September 2017 pukul 13.00 WIB adalah waktu yang tidak akan saya lupakan.
Tanggal dimana aku pendadaran.


Pendadaran adalah Istilah yang digunakan untuk Ujian Skripsi calon Sarjana S1. Dalam sidang tersebut, skripsi akan diuji dihadapan tiga orang dosen yang terdiri dari satu dosen pembimbing dan dua dosen penguji. Istilah ini ternyata beda-beda konsepnya di beberapa universitas, tapi sejauh pemahamanku Pendadaran yang aku tahu adalah Sidang hasil penelitian Skripsi sebagai tugas akhir dari Calon Sarjana.


Dosen pembimbingku adalah Mba Azizah. Dosen penguji pertama ialah, Mas Ashari sebagai penguji substansi, kemudian Mba There sebagai penguji metodelogi. Mba There menggantikan Prof. Purwo Santoso yang harusnya hari itu menguji namun beliau berhalangan hadir, sebuah keberuntungan bagi diriku. Padahal kalau aku diuji oleh Prof Purwo aku menjadi yang ketiga di angkatan 2012.



Foto 2: Bersama Dosen Pembimbing Mba Azizah, S.IP, M.Sc

Pada waktu ujian itu aku baru tahu ternyata dosen penguji itu dipilih oleh dosen pembimbing.  Mas Ashari dipilih karena beliau lulusan Amerika, sehingga matching dengan studi ku terkait think tank. Kedua, mba There dipilih karena beliau satu-satunya yang available untuk diminta dadakan menggantikan Prof. Purwo .


Persiapan sudah aku lakuan sehari sebelum ujian. Presentasi dibatasi oleh Mba Aziz hanya 10 slide, pada kenyataannya slideku berjumlah 12. Untuk mensiasati padatnya substansi aku mengkonsep slide yang penuh animasi dan tidak padat, selama ini aku selalu melihat jenis slide yang padat dan membosankan. Aku mendapatkan nasihat dari Binta untuk membuat slide yang simpel dengan merujuk pada Steve Jobs dan  memang presentasi Steve Jobs itu keren dan sederhana.


Malamnya, Aku sudah mempersiapkan setelan Jas  peninggalan Abah, Alhamdulillah ukurannya pas walaupun kurang pendek karena Abah lebih tinggi daripada aku. Selin itu aku juga mempersiapkan hal-hal kecil yang aku perlukan besok. Aku juga menyebarkan undangan ke beberapa group bagi yang ingin hadir ke sidangku. Aku tidak terlalu berhadap mereka datang, yang penting aku sangat suka kalau ada yang mau mengambil materi skripsiku untuk pengetahuan.


Besok siang sekitar jam 10.00 aku sudah siap dengan setelan Jas ku, aku keluar rumah kemudian pamitan ke Pak Yusuf, pamitan juga ke Ibu Utoro tetangga rumah. Aku berangkat menggunakan Gojek dan berangkat sebelum jum’atan pukul 11.00 WI. Aku merencakan Sholat Jum’at di Fisipol UGM.

Lokasi ujianku terletak di gedung fisipol lantai lantai 4. Di atas ternyata sudah ada Hafiz Noer yang menunggu mas gafar dosen pembimbingnya, menyusul kemudian datang Pramita, Suryo Ilham, Tefy, Irwan dan Hikari.  Mereka lah yang menjadi penonton sidang skripsiku. Sisanya telat dan berhalangan hadir. Mereka nanti yang membantu aku mempersiapkan ruangan dan menjadi penonton sidangku, bahkan Mita menyiarkan sidang skripsiku live di IG.

Aku mulai sidang pukul 13.15 WIB. Begitu dosen pembimbing dan penguji masuk, aku melihat draft skripsiku udah di corat-coret dan ada tanda-tanda lipatan. Artinya skripsiku sudah dibaca dan dikritisi.

Setelah Mba Mba Azizah masuk ruangan, suasana sudah tenang dan kemudian Beliau mempersilahkan aku untuk memulai presentasi dengan estimasi waktu 15-20 Menit. Kemudian aku memulai presentasi.

Presentasiku menghabiskan waktu 15 menit lebih. Setelah itu dimulailah sesi tanggapan oleh kedua orang dosen penguji. Diawali oleh tanggapan dari mas Ashari, beliau adalah alumni dari University of Delaware, beliau juga penerima beasiswa Fullbright dan Prestasi-USAID. Ia juga mengenal Andrew Rich, ilmuan politik dan ahli Think Tank yang desertasinya saya jadikan rujukan. Oh iya, Ia juga pernah menulis tentang think tank di On Think Tank (OTT) itu semacam komunitas pengamat dan Website yang khusus membahas soal think tank. Nah dalam skripsiku beberapa artikel di OTT aku jadikan rujukan. Jadi beliau memiliki kompetensi dalam studi penelitianku.


Aku banyak dapet masukan dari mas Ashari, terlebih soal policy making process di zaman Soeharto. Aku direkomendasikan  membaca desertasinya Rizal Malarangeng yang diterbitkan di Indonesia tahun 2004 oleh KPG judulnya, “Mendobrak Sentralisme Ekonomi: Indonesia 1986-1992” .Buku yang aku temukan di perpustakaan Filsafat. Buku itu menyatakan bahwa walaupun pemerintahan Soeharto itu Otoriter namun tidak monolitik, ia masih membuka pintu kesempatan kepada pihak-pihak lain yang disebut sebagai kelompok-kelompok epistemik untuk turut berkontribusi dalam proses perumusan kebijakan. Soeharto membiarkan mereka berdebat kemudian akan memilih pendapat yang terbaik untuk diadopsi menjadi keputusan.


Beliau menyorotiku di bab 4 dimana aku tidak konsisten dalam metode kualitatif, karena aku menggunakan rumus-rumus hasil kreasiku sendiri yang cenderung Kuantitatif. Sebenarnya rumus-rumus itu adalah hasil daya imajinasiku berdasarkan pembacaan terhadap konsep "Exercising Power" dari Teori Tiga Dimensi Kekuasaan Steven Lukes (1973). Sesuatu yang aku tertawakan kemudian bahwa ternyata hasil kreasiku ini lebih ke arah sok tahu.


Kedua, aku mendapat masukan dari Mba There yang menyoroti metode pengambilan data yang menggunakan metode wawancara sebagai sumber primer. Melihat tanggal waktu wawancara dan ujian seharusnya sumber literatur itu menjadi dicantumkan sebagai sumberprimer sementara wawancara menjadi sumber sekunder karena hanya mengkonfirmasi. Mba There juga menyoroti BAB 4 yang bermasalah karena aku bikin rumus-rumus sendiri. Selain itu, Mba There juga mengusulkan agar aku mengganti quotasi di BAB 2 dan 3 karena menurutnya tidak nyambung dengan isi. 


Sebagai dosen pembimbing, Mba Azizah ternyata bertindak sebagai moderator dan mencatat semua masukan. Bahkan sesekali beliau membelaku. Catatan beliau selama ujian yang menjadi rujukanku kemudian dalam menyelesaikan revisi.


Ujianku selesai sekitar pukul 14.45 artinya dua jam lebih aku ujian. Selesai sidang aku tidak diminta keluar seperti yang sudah-sudah hanya penonton yang diminta keluar, kemudian nilainya langsung diumumkan di dalam ruangan ujian. Alhamdulillah nilai sementaraku “A”, namun ada kewajiban revisi yang harus segera aku selesaikan. 

Foto 3: Bersama Punggawa HMI Komisariat Fisipol dari Kiri ke kanan : Suryo Ilham, Irwan Harjanto, Galih Kartika (ketum Komsat 2017-2018), Pinto B.P. (ketum Komsat 2016-2017), Hikari Ersada, Hafiz Noer

Aku menyelesaikan revisi hari selasa. Jum'at aku sidang, hari Sabtu dan Minggunya aku santai-santai. Jadi sebenarnya aku menyelesaikan revisi itu sekitar dua hari. Setidaknya Aku membutuhkan waktu untuk membaca buku yang direkomendasikan oleh mas Ashari. Kewajiban revisiku sebenarnya hanya mereorganisasi struktur BAB 3 dan 4. Alhamdulillaah setelah revisi aku merasa bahwa skripsiku sudah lebih baik, dan aku lebih nyaman membacanya.


So, akhirnya revisiku sudah di ACC oleh Mba Aziz seminggu kemudian.

Foto 4: Bersama Srikandi-Srikandi JPP dari kiri ke kanan: Tefynofadila, Dilla Novita Rizki, Pramita N. Damayanti, Dia ayuningtyas, Oktiviani Primardianti

Singkat cerita akhirnya aku terdaftar wisuda untuk tanggal 22 November 2017. Proses pendaftaran wisudaku sangat terbantu oleh kebaikan dari Pramita Novia Damayanti, karena aku harus ke pare sejak tanggal  7 Oktober sampai 15 November. Nah ini akan aku ceritakan di tempat yang lain.

Terimakasih sudah membaca J




Pare, Kediri,

Senin,  23 Oktober 2017




Jumat, 12 Mei 2017

Menjadi Seorang enumerator

Menjadi Seorang enumerator
(bagian kedua)

Aku datang di hari ke-5 siang-siang di basecamp kami di Gading 1 Kecamatan Playen. Saat itu wilayah yang kami garap masih Playen. Mulailah aku berkenalan dengan mas anas alumni FKH angkatan 2009 tapi belum coas, asal dari Palembang. Keasikan Survey jadi belum nerusin coas.

Aku menyesuaikan diri dan langsung bisa bekerja sore ini, Alhamdulillah dapat dua responden hari itu. Kemudian abis maghrib kami balik. Aku bentar aja karena baru pengenalan wilayah.
Aku berkenalan dengan mas Eko alumni UNY angkatan 2010, tapi belum dapet pekerjaan. Selain itu ada mba Bekti, alumni UNY juga, termasuk enumerator senior. Terakhir mba Kholish asalnya dari Kebumen, pengantin baru tapi sudah meninggalkan rumahnya buat jadi enumerator.

Mas anas, Eko, Niam, mba Bekti mereka adalah enumerator senior. Mas Eko, mas Anas dan Mba Bekti pernah ikut mbahnya survey namanya PSKP (penelitian standar kesehatan dan pendidikan) yang disebar di berbagai wilayah selama 3 bulan. Pelatihannya dua hari di hotel dan ada tanda tangan kontrak, jadi bagi yang mengundurkan diri harus mengganti biaya yang sudah dikeluarkan lembaga. Pendanaan proyek tersebut dari World Bank. Nah si Ucup waktu itu ikut ini sampe dia ninggalin sekolah tjokro.

Aku mendengarkan cerita PSKP itu bagaimana saja sudah bergidik. Aku diceritakan kuesioner yang harus diisi itu bentuknya sudah seperti buku ada berbagai jenis, dan sekali wawancara bisa lebih dari sejam tergantung data yang mau dicari. Ada lagi sampling dan lain-lain yang itu dengernya aja ribet.
Ternyata begini ya dunia survey. Tidak seindah keliatannya, ketika kita sudah masuk ke dalamnya terasa bahwa ini dunia yang sebenarnya menyedihkan. Memang uangnya terlihat besar dan dapetinnya gampang. Tapi kalo aku hitung-hitung dari biaya non materi seperti waktu dan tenaga yang dikeluarkan itu ga sebanding loh. Memang siapa yang mau seterusnya jadi enumerator. Ditambah kerjaan seperti ini bukan passionku.

Aku melihat ternyata orang-orang yang ikut survey ini adalah mereka yang belum keterima kerjaan yang layak bagi mereka. Daripada nganggur mendingan ikut survey, lumayan cukup menghasilkan. Bagi lembaga enak aja netapin harga enum, bagi yang tidak berkenan yasudah, tinggal cari yang lain, apalagi mahasiswa tingkat akhir dan pengangguran pasti mau-mau aja asal dapet kerjaan.

Survey potensi konflik kemarin per diemnya itu 150 ribu, uang bensin 20 ribu itu perminggu (kalo ini ga layak sih). Makan pagi dan malam sudah di tanggung, plus uang untuk basecamp juga sudah ditanggung. Aku baru dateng dua hari sudah di berikan 1.500.000 untuk tanggal 23 April sampai 4 Mei 2017.

Aku memperhatikan teman-teman setimku, yap mereka adalah orang-orang yang butuh pekerjaan, dan rata-rata semua enumerator, mereka adalah pengangguran.  Karena sebenarnya enumerator seperti ini ga cocok diikutin oleh mereka yang sedang aktif di organisasi atau sedang mengerjakan skripsi karena benar-benar harus meninggalkan pekerjaannya.


Naik turun Gunung Kidul
Kecamatan Playen, Desa Banyuseco

Dimulailah petualanganku mengenal daerah di gunung Kidul, tempat terjauh aku jalani di hari kedua yaitu dusun Srikoyo di Desa Bleberan. Itu kami jalan di konblok dan disebalah kiri jalannya kandang sapi. Jalan-jalan didalem dusunnya masih ada yang cuman ditimbun batu-batuan kapur.
Kemudian darisana aku menyusuri jalan menuju desa Banyusoco. Nah ini desa berkesan, karena baru pertama aku masuk ke desa yang sejauh ini. bayangkan sebelum sampai ke balai desanya kita harus melewati dua kali komplek hutan. Sampai di Balai kota yang lumayan terpencil, aku lihat ada spanduk “bunuh diri bukan solusi” dan ada tambahan ayat-ayat al-qur’an seperti “bunuh diri berarti menggantung dirimu di neraka” aku menduga di wilayah sini banyak penduduk yang bunuh diri.
Jadi desa Banyuseco itu ditengah hutan, dan merupakan desa paling jauh di Kecamatan playen berbatasan dengan Imogiri Bantul. Aku bertugas mewawancara 4 responden hari itu disana. Seingatku Dusun kepek 2 dan dusun Klepu. Nah dusun Kelpu ini yang paling jauh, melewati hutan lagi dan naik ke atas bukit buat sampai ke rumah pak dukuhnya. Setelah wawancara kesana kemari, waktu bergulir sampai sore.
Aku baru bisa ketemu dukuh Klepu setelah isya beliau adalah responden terakhir yang aku wawancarai untuk desa Banyuseco dan Kecamatan Playen, jadi aku bela-belain sampe jam 21.00 di rumahnya. MasyaAllah istrinya masih cantik, yaa tante-tante 30an tahun lah dan pak dukuhnya sudah bapak usia 54 tahun, jadi bedanya jauh. Jadi dulu Waktu nikah istrinya masih 17 tahun dan suaminya udah 28 tahun.
Sempet disuruh nginep tapi aku terus paksain pulang malam itu, ngelewatin gelapnya hutan sendirian di motor. Wah bagaikan melewati hutan yang tidak ada habis-habisnya, seberani apapun kita tetep ngebut juga, pengen cepet2 selesai sesi hutannya. Alhamdulillah ada mobil jadi ada temennya di jalan hehe.


Kecamatan Wonosari
Desa Selang, Desa Baleharjo, Desa, Wonosari

Selesai Playen kami pindah ke Kecamatan Wonosari, Basecamp kami juga pindah ke Desa Gari Dusun Gari, rumahnya Mba Bekti. MasyaAllah rumahnya juga masuk ke kebun dulu, tapi pendek sih. Kamar mandinya deketan sama kandang sapid an kalo malam itu gelap. Lantainya juga bertanah-tanah. Rasanya seperti KKN di daerah tertinggal. Tapi memang daerah Gari masih cukup tertinggal sih menurutku. Dan di daerah Gari sini banyak kejadian bunuh diri.

Gunung kidul adalah daerah dengan tingkat bunuh diri tertinggi secara nasional loh.
Di basecam gari kami tidur di ruang tengah, dan ternyata kalo shubuh masyaaAllah dingin bingit, menggigit.  aku juga belum tau masjid dimana, karena gelap kalo kita liat keluar, cuman kedengeran suara adzan aja. Jadi aku sholat di rumah, di hari terakhir baru aku tau lokasi masjid yang ternyata cukup jauh.

Dari pembagian desa, dimana kami minimal menghandle 2 Desa. Aku kebagian desa Selang dan Baleharjo itu desanya deketan. Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan Desa Selang dan Baleharjo selama 4 hari. Kemudian aku ditambah desa Wonosari, aku selesaikan dalam waktu dua hari.
Pekerjaan yang cukup melelahkan ternyata. Aku masuk-masuk dusun, bulak balik rumah orang, Tanya sana sini. Aku merasakan dengan fisikku sendiri bahwa mencari uang itu berat. Makanya aku sekarang menghargai sekali setiap rupiah karena dapetinya ternyata susah.

Dan aku juga teringat pernyataan kanda Heri santoso. Bahwa bodoh kalau kita mengejar-ngejar uang, apalagi sampai mengais rejeki (bahasanya itu loh). Orang yang cerdas itu yang uang datang kepadanya. Dan itu adalah tanda-tanda dari orang yang bertakwa. Dimana rejeki datang kepadanya dari arah yang tidak diduga-duga.

Mulailah perasaan bahwa ini bukan tempatku terus membuncah. Aku merasa aku salah ikut ini. Aku mulai berdoa sama Allah SWT minta petunjuk. Aku telfon umi tapi baru ngasih tau kalo aku ikut proyek survey di gunung Kidul.

Oh iya sekitar dua kali aku bulak balik jogja Gunung Kidul, terutama pas aksi 2 Mei aku balik ke Jogja,sama sebelumnya aku juga balik.

Aku sudah merasa cukup lelah dan tidak sebanding dengan pengeluaranku. Yang paling memberatkanku adalah skripsiku. Aku kepikiran terus skripsiku selama di perjalanan. Bagaimana aku bisa mengincar ujian Juni kalau aku masih disini.

akhirnya pada hari sabtu dini hari di basecamp aku sholat tahajud, mohon petunjuk. Ketika adzan shubuh aku sholat di masjid berjama’ah. Kemudian abis shubuh aku menelpon kedua orang tuaku. Terutama umi aku menceritakan keberatanku. Aku bilang uang sejuta udah aku transfer ke Norma.
Tapi aku mau mengundurkan diri dari proyek survey ini, aku ga bisa ada disini terus, skripsiku pasti terbengkalai. Aku hampir menitikkan air mata waktu cerita ke Umi. Pokoknya kalo nelpon umi jadi mellow deh. Suara umi juga sih suka bikin sedih. Aku bilang aja aku ga punya waktu tapi aku juga butuh uang baut hidup.

Umi bilang prioritasin skripsi, uang gampang nanti umi cari. Yang penting skripsi diselesaikan dulu. Akhirnya aku ambil keputusan.


I’M OUT

Pagi harinya waktu semua tim udah pada bangun, aku berfikir terus sambil tiduran gimana solusinya agar aku bisa keluar tapi caranya tetap elegan. Terus waktu mas Anas duduk di teras buat ngerokok, langsung aku samperin.  aku ngobrol empat mata sama mas anas di teras, “mas aku mau ngomong, aku mau mengundurkan diri dari survey ini” , mas Anas Shock tapi akhirnya bisa aku jelasin soal skripsi dan waktu ga lama akhirnya dia bisa mengerti. Soal skripsi memang ga bisa disambi sama proyek kaya gini katanya.

Kebetulan semua lagi ngumpul di ruang tengah. Mas anas samaku langsung masuk untuk ngomong ke temen-temen semua keadaannya. Mas anas langsung memulai, “temen-temen ini faizal mau ngomong ke kita, dia mau mengundurkan diri”.

Kemudian Aku ceritakan kalau aku terkendala skripsi di survey ini, berat bagiku untuk tetap ada disini, karena aku sudah mengorbankan waktu banyak disini.  Aku udah coba sambil mengerjakan skripsi di waktu senggang tapi ga bisa, susah banget, fisikku terlalu lelah ketika malam. Aku sudah menyelesaikan semua kewajibanku dari tanggal 23 sampai 4 Mei,( waktu aku mengundurkan diri itu tanggal 6 Mei).  Aku sudah melunasi kewajiban atas hak 1.5 juta ku. Tapi yang menjadi fikiranku adalah ketika aku mundur beban kerja teman-teman setimku jadi bertambah, maka aku usulkan honorku di bagi-bagi saja ke mereka.

Mulailah terjadi diskusi disana, mas niam ga masalah dengan keputusanku tapi dia ga mau mengerjakan sisa pekerjaanku nanti di kecamatan selanjutnya. Mas ipul juga bilang ga masalah atas keputusanku dia bilang kita ga ada permasahan pribadi dengan ku, tapi yang diungkit mas ipul adalah perihal honor dan perhatian terhadap tim kami di gunung kidul yang sangat minim. mas Eko bilang keputusanku untuk lebih mengutamakan skripsi adalah keputusan yang tepat. Mas eko juga bilang ini menjadi pelajaran bagi PSKK karena kan ga ada hitam di atas putih, jadi setiap orang bisa keluar masuk bebas.  Dari mereka ada kesamaan keluhan soal honor yang telat dan sedikit dibandingkan pengorbanan kita, bahkan mas ipul bilang kerja kami sebenarnya semi kerja sosial.

Akhirnya kami berdiskusi dan sudah bisa saling memahami  kondisi dan permasalahan masing-masing. Mas anas juga banyak dituntut oleh anggota tim untuk proaktif berkomunikasi dengan PSKK dan menggalang “pemberontakan”kepada PSKK agar honor bisa segera cair.


Akhirnya aku bisa menyelesaikan urusanku dengan mereka. Siangnya aku bisa berkemas-kemas dan pulang ke Jogja dengan selamat. Alhamdulillah, la haula wala quwwata illa billah..

ENUMERATOR

ENUMERATOR
(bagian pertama)

23 April-7 Mei 2017


Ini adalah pengalaman saya menjadi enumerator yang kesekian. Namun pengalaman enumerator ini paling berkesan menurutku.

Aku ikut enumeratornya PSKK, enumerator yang katanya paling sejahtera di Jogja, jadi yang ikut PSKK ini banyak juga yang dari luar UGM seperti dari UII, UNY, UIN.  Memang bener, uang yang ditawarkan bagi enumerator “keliatannya” besar.

Sudah daftar, ikutlah aku prosesnya, dimulai dari wawancara di gedung masri singarimbun, disitu aku udah lihat banyak orang ngantri buat wawancara. Waktu ngantri itu aku berkenalan dengan seseorang bernama Bowo, nama panjangnya wahyu nur Prabowo, asli Sleman. Aku sama dia langsung akrab, dia bercerita banyak tentang latar belakangnya. Jadi dia Geografi angkatan 2009, wah sudah 7 tahun ternyata dan tahun ini tahun terakhirnya. Dia harus lulus tahun ini kalo tidak maka akan di DO.
Dia jadi teman akrabku selama proses wawancara hingga keesokan harinya ketika pelatihan. Pelatihannya di gedung masri Singarimbun, aku baru tau ternyata bundel wawancaranya tebel juga.  Satu buku tipis sekitar 20an halaman.

Proyek Sultan

Jadi apa yang sedang aku lakukan ini adalah proyek kerjasama antara Kesbangpol DIY dan PSKK (pusat Studi kebijakan dan kependudukan) UGM. Sementara di belakang Kesbangpol DIY juga ada kepentingan Sultan yang dititipkan dalam beberapa pertanyaan di penelitian ini. Judul Proyeknya adalah “pemetaan perubahan sosial dan potensi konflik di DIY”.

Proyek ini bukan yang pertama, tapi sudah pernah dilakukan 2 sampai 3 kali sebelumnya dan menghasilkan output yang memuaskan pemerintah. Makanya kata pak Heruanto Hadna, kepada PSKK yang ternyata dosen MKP Fisipol anggaran untuk penelitian ini sama tim audit pemerintah bukannya dikurangi tapi di tambah.

Belakangan aku sadari keanehannya kenapa ga ngaruh ke Gajih pekerjanya yaa.
Jumlah enumerator sekaligus supervisor yang diterjunkan untuk penelitian di 4 kabupaten dan satu kota sekitar 130an orang dengan 28 hari kerja. Kami ditugaskan mewawancara semua dukuh di semua kabupaten di DIY, Kulonprogo, Bantul, Gunung Kidul, Sleman dan Kota Jogjakarta. Selain itu kami juga harus mewawancara tokoh masyarakat, tokoh perempuan, Karang taruna, BPD, LPMD, Bhabinkamtibmas.

Mulailah pembacaan penempatan lokasi oleh ketua proyeknya (mas Habib). Qadarallah, aku dapet di Gunung Kidul untuk Kecamatan Playen, Purwosari, Paliyan, Saptosari, Panggang, Purwosari. Totalnya 6 Kecamatan dan tim kita terdiri dari 7 orang.

Qadarallahnya lagi, rekan satu timku duduknya berderet di sampingku, duduk di sebelah kananku mas Niam dari UIN angkatan 2010 dan belum lulus, disebelah kiriku mas saiful dari UIN juga sudah lulus dan menikah.


IZIN

Sebenarnya aku sudah tidak layak buat meneruskan survey ini, kenapa? Karena di 4 hari awal saja aku sudah izin untuk FLC. Aku udah bilang ini ke mba Ulfah yang mewawancaraiku di awal, bahwa aku bakal izin di hari awal karena FLC ga bisa ku tinggal.

Nah kebetulannya mba Ulfah ini adalah senior HMI, pernah menjadi pengurus di Cabang dan kader HMI Komsat FIB angkatan 2007. Beliau seangkatan mas Dira dan mas yuri dkk.

Jadi karena pertimbangan satu organisasi, aku bisa di ‘usahakan’ untuk masuk jadi enumerator walaupun aku izin. Di awal mba Ulfah sempat merekomendasikan aku buat jadi supervisor, karena kerjanya lebih selow. tapi ternyata pas pengumuman aku tetap jadi enumerator dan bukan aku supervisornya, . Belakangan aku bersyukur dengan keputusan itu.


Selasa, 24 Januari 2017

Biografi Muhammad Hatta: Untuk Negeriku



Aku baru saja menamatkan tiga jilid buku autobiografi Muhammad Hatta: Untuk Negeriku. Terdiri dari tiga jilid buku: Buku pertama berjudul Bukittinggi-Rotterdam lewat Betawi. Kedua, Berjuang Kemudian Dibuang. Ketiga, Menuju Gerbang Kemerdekaan. Ketiga jilid tersebut aku tamatkan dalam waktu total empat hari.

 Aku mendapatkan Buku Autobiografi Muhammad Hatta di cuci gudang Kompas Gramedia namanya kumur-kumur, singkatan dari buku murah. Datang pagi-pagi jam 8.45 WIB bareng Pramita. Begitu sampai di lokasi ternyata sudah antri puluhan orang di pintu masuk Aula Bentara Budaya. Hari kami datang adalah hari pertama perpanjangan kumur-kumur. Pada pukul 9.00 WIB pintu Bentara Budaya dibuka dan semua orang berebut masuk ke dalam.

 Dalam suasana yang hiruk pikuk tersebut, orang-orang kalap,mengambil apa saja yang bisa di ambil. Tentu saja yang paling mengesalkan adalah para penjual buku yang mengambil satu judul buku lebih dari lima eksemplar. Kemudian oleh pihak Kompas setiap orang dibatasi hanya boleh mengambil dua judul buku yang sama. Di pojok kiri dari pintu masuk ada booth diskon 50% , untung Mita bergerak kesana dan langsung mengambil buku biograf Muhammad Hatta. Buku itu harga aslinya 150 ribuan, setelah diskon 50& jadi kita bayar 70 ribuan, lumayan banget untuk buku 3 jilid dan lumayan tebal.

 Aku bilang sama Mita, “keren dapet dimana?, yaudah langsung kita ambil aja!”.

  Akhirnya biografi Muhammad Hatta itu dan buku-buku yang lain gabungan sama punya Mita juga totalnya kita beli 15-20 buku seingatku. Memang Jogjakarta adalah surga bagi para pencinta Buku.


 *** 

Buku biografi Muhammad Hatta tidak langsung aku baca. Sempat beberapa minggu tidak tersentuh di lemariku. Sampai suatu ketika hatiku terpetik untuk membacanya sekitar lima hari yang lalu. Mulailah aku membaca Jilid pertama.

 Di Buku ini Hatta bercerita tentang latar belakang keluarganya, dan pendidikannya di Bukittinggi hingga ke Kota Padang. Kemudian merantau ke Batavia hingga menjadi termasuk murid yang terbaik hingga bisa melanjutkan studinya ke Rotterdam Belanda di sekolah tinggi ekonomi.

 Di buku ini teman-teman akan membaca watak pembelajarnya Muhammad Hatta. Tidak dapat dipungkiri dari nasabnya yang keturunan Ulama besar di Bukittinggi Hatta adalah bibit unggul. Prestasi belajarnya juga merupakan yang terbaik dari yang terbaik untuk pelajar Indonesia pada masa itu. Diceritakan pula bagaimana proses pendidikan dari Bukittinggi ke kota Padang, hingga ia merantau ke Batavia. Berprestasi menjadi murid yang terbaik dari kalangan pribumi hingga akhirnya bisa melanjutkan ke Rotterdam Belanda melanjutkan studi di sekolah Tinggi ekonomi.

 Menurutku yang paling mengandung pelajaran dan prinsip-prinsip hidupnya Bung Hatta ada di buku keduanya. Disitu aku banyak menstabilo dan menempelkan post note untuk halaman yang berisi ide-idenya tentang kepemimpinan, pengkaderan dan pergerakan. Setiap kata-kata di buku kedua ini seperti ada ruhnya, mungkin karena ditulis dengan hati.

 Di buku kedua juga aku merasakan kritik kerasnya Hatta terhadap Soekarno, sangat keras kritiknya. Disinilah aku bisa merasakan bagaimana perbedaan latar belakang pendidikan sangat menentukan prinsip seseorang.

 Buku ketiga bercerita tentang perjuangan Muhammad Hatta hingga mencapai kemerdekaan yang diakui oleh Kerajaan Belanda pada tahun 1949.
 Dalam buku ini digambarkan bagaimana Hatta dalam dwitunggalnya dengan Soekarno. Betapa Hatta adalah pelengkap Soekarno walaupun dalam sejarahnya mereka adalah rival seperti api di dalam sekam. Mereka berseteru secara prinsip dan pilihan politik, namun hal tersebut dikorbankan demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Hatta dapat melengkapi peran Soekarno.

 Aku merasakan Dwitunggal Soekarno-Hatta adalah kombinasi kepemimpinan yang sangat pas untuk Indonesia saat itu. Soekarno : Jawa, agitator, pendidikan dalam negeri. Muhammad Hatta: Minangkabau, pengkader, Pendidikan Eropa. Soekarno pemimpin yang bertindak sebagai solidarity maker dan Hatta sebagai pemimpin yang bertipe administrator.
 Kombinasi yang saling melengkapi kebutuhan Indonesia dalam merebut kemerdakaan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

 Ketika Muhammad Hatta memutuskan untuk mengundurkan diri dari kursi wakil presiden, di titik itulah klimaks perpecahan dwitunggal yang akhirnya membawa petaka bagi Soekarno sendiri. Setelah membaca biografinya, kita akan dapat memahami bahwa pilihan Muhammad Hatta tersebut tentu sudah melalui pemikiran yang panjang dan merupakan pilihan terakhir.

 ***

 Kesan

 kesanku yang pertama adalah cara berceritanya Muhammad Hatta yang sangat mendetail. Dia menceritakan perjalanan hidupnya dengan deskripsi jadwal, menu sarapannya hingga kopi yang ia minum. Kemudian bagaimana dia belajar, berlibur dan mengisi waktu luang. Cara berceritanya seperti kita membaca buku hariannya dari hari ke hari, sepertinya memang Muhammad Hatta menulis perjalanan hidupnya dalam buku harian.

 Kedua yang menarik adalah, Muhammad Hatta menceritakan perjalanan hidupnya dengan hikmah dan pelajaran di baliknya. Sehingga terasa nilai-nilai yang menjadi prinsip hidupnya. Setiap tindakan yang dia pilih memiliki alasan dan dia mengutarakannya. Hatta adalah orang yang kaku dan teguh pada pendirian. Setiap pilihan dalam hidupnya sudah dipertimbangkan dengan matang dan rigid.

 Ketiga, Biografi Muhammad Hatta membawa nilai-nilai keislaman. Pengaruh dari latar belakangnya yang berasal dari Minangkabau dan pendidikan keislaman sejak dia kecil. Buku ini wajib anda miliki dan anda baca!

Senin, 19 Desember 2016

PTKP CABANG BULAKSUMUR

Saya diamanahkan sebagai ketua bidang PTKP Cabang Bulasumur di periode yang baru ini.

aku menginisasi forum ishlah (perbaikan) yang dilaksakan tadi pukul 20.15 sampai pukul 22.30WIB di sekre cabang. dihadiri oleh perwakilan setiap komisariat, ada dari Filsafat, FIB, Fisipol, Teknik, Agrokompleks dan Hukum. alhamdulillah forum berjalan lancar, sebagai mana yang aku harapkan. komunikasi berjalan lancar dan semua bisa menyampaikan unek-uneknya. satu persatu perwakilan komisariat menyampaikan tanggapan dan usulannya kepada PTKP Cabang Bulaksumur.

forum ini aku adakan untuk merespon perkembangan politik di internal kampus cabang Bulaksumur. melihat dampak dari gagalnya forum di cabang bulaksumur kemarin yang gagal menyatukan aspirasi dan keinginan dari komisariat.

dimulai dari retas yang menerima tawaran dari saudara Alfath sebagai mentri kordinator politik pergerakan kabinet terpilih. kemudian retas mengajak narto sebagai mentri advokasi mahasiswa dan fajrul falakh sebagai mentri kolaborasi mahasiswa.

retas kemudian menyampaikan alasan dibalik kegagalan pencalonannya dan permintaan maafnya kepada perwakilan komsat. semua akhirnya bisa memahami.

initinya kami ingin membangun kembali komunikasi yang sempat terputus.

yang paling penting disini aku mencoba untuk mengerti kondisi kebatinan para punggawa komisariat. karena kalau low politics ini beres kita akan bergerak ke langkah yang lebih maju.

ini bukan menjaadi forum yang pertama dan terakhir.

Jumat, 02 Desember 2016

212

411 dan 212

Untuk aksi bela islam ke-3 ini aku ga bisa ikut ke Jakarta. Sebenernya ga ingin banget juga disampaing karena sedang banyak kerjaan di Jogja. Tapi menarik sekali membayangkan perasaan dan luapan emosi berada di dalam barisan jutaan orang yang terpanggil hatinya untuk membela Qur'an. Ya tentu saja akan hadir orang dengan motif-motif lain tapi hati siapa yang tau kecuali dirinya dan Allah SWT.

Pada awalnya aku memang kurang sepakat dengan ide bela islam, terlebih dari substansi tuntutan yang diangkat yang menurutku sangat jauh dari yang seharusnya. Oke kita membela islam dan menuntut sang penista Agama karena menghina ulama dan Al-qur'an (surat Al-maidah ayat 51). Dalam kasus penistaan agama ini posisi saya menyepakati kalau Ahok menista ulama. Walaupun aku sangat paham siapa sebenarnya yang dimaksud oleh Ahok melalui pernyataannya, dan aku yakin beliau tidak bermaksud kesitu tapi "kepleset".

 Jadi dalam posisi ini Ahok benar telah menista Ulama dan Al-Qur'an menurutku, dengan perkataanya "jangan mau dibohongi pakai surat Al-Maidah ayat 51". Namun karena aku orangnya pemaaf, aku sebenernya tidak ingin kasus ini menjadi berlarut-larut. namun karena sudah dilaporkan oleh MUI atas tuduhan penistaan agama posisiku secara hukum silahkan Ahok di proses secara hukum dengan seadil-adilnya. Salah katakan salah dan benar katakan benar.

Ada beberapa kasus yang akibat kepleset lidahnya dalam suatu proses kandidasi politik bisa kalah dan itu terbukti, ya ini sudah takdir dari Allah SWT.

Aksi yang terjadi bahkan hingga sampai yang ketiga ini kan karena proses hukum yang lama sekali terhadap Ahok. Hingga akhirnya ummat marah dan memberikan tekanan politik ke kepolisian. dari mulai bela islam 1 sampai besok yang ke-3.

aku sendiri turun aksi pada tangga 11 November 2016, atau terkenal dengan sebutan '411'. wah memang feelnya ketika di lapangan beda banget, rasanya bersemangat dan takjub aja berada di dalam kerumunan orang-orang berbaju putih dan dalam satu keimanan. 

waktu itu aku sholat Jum'at di masjid Ceut Meutia, Cikini, itu jama'ahnya saja sudah meluber sampai jalan paling ujung dari masjid. aku waktu itu alhamdulillah masih bisa sholat di rumput waluapun celana jadi agak basah. disana aku bareng sama Raihan anak Ilpol UI, HMI MPO. jadi aku ikut rombongan HMI MPO dari UI yang cuman berlima dan mulai jalan masuk ke barisan massa aksi.

Sempet ketemu mas budiyanto juga, manager beasiswa aktivis nusantara sama mas dimas supervisor BA. waduh lumayanlah bisa ketemu mereka, karena mereka tau aku dari Jogja aku jadi bisa menunjukkan kalau aksi ini bisa mengumpulkan kita semua yang berjauhan.

Akhirnya aku ikut di dalamnya, aku melihat orang-orang yang menonton aksi kita di atas gedung di jendela-jendela gedung yang tinggi, di kereta api anak-anak melambaikan tangan, waah meriah sekali. Aku melihat anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, semua berkumpul, jalan isinya manusia semua dari ujung sampai ujung.

menjelang ashar aku merengsek ke depan, ternyata di depan sudah ada segerombolan barisan massa HMI sekitar 200an orang, ini berbeda sama massa HMI MPO yang sangat sedikit hanya belasan di bagian belakang. ternyata massa HMI sudah dari siang berada di posisi paling depan, vis a vis langsung sama barikade kepolisian. aku sempet selfie di depan tameng polisi. di titik selfie itulah pecah pertama kali kerusuhan satu jam setelahnya

Aku mendegarkan orasi, dan berpindah tempat ke posisi lebih tinggi untuk bisa melihat secara jelas posisi massa. Alhamdulillah belakangan ku syukuri perpindahan tempat membuatku selamat dari titik kerusuhan yang pertama walaupun sempet menyesal juga karena seharusnya bisa kucegah. ya aku ada di titik kerusuhan itu pecah, aku liat sendiri bagaimana kerusuhan itu dimulai pertama kali, kalau orang banyak menyalahkan HMI, jawabanku tegas, memang HMI oknum kerusuhannya.

videonya jelas bisa dilihat disini

https://youtu.be/NKxAgwWH0K0

Aku berada disana sampai pukul 22.00 WIB ketika semua sudah mereda, aku menyaksikan keadaan yang sungguh-sungguh kacau. yah begitulah yang namanya kalau sudah kerusuhan. semua serba tidak terkendali. memang penyebabnya bukan hanya HMI, tapi ada banyak faktor-faktor pendukung lain. salah satunya waktu yang sudah melebihi batasnya.

sepertinya dalam aksi 212 kali ini, GNPF-MUI sudah banyak melakukan evaluasi, syukurlah. tidak ada yang berharap terjadinya kerusuhan.

Aku berharap aksi hari ini 2 desember 2016 bisa berjalan damai dan lancar,

hari ini akan menjadi catatan sejarah bagi perjalanan bangsa Indonesia dan semoga Allah mencatatnya sebagai amal kebaikan untuk kita semua. Amin Ya Rabbal Alamin.







Selasa, 15 November 2016

PEMATERI LK 1

PEMATERI LK 1

Mengisi Materi NDP di LK 1 Komsat Teknik Sabtu 29 Oktober 2016 di Wisma Sembada Kaliurang


Akhir-akhir ini aku banyak diminta menjadi pemateri di diskusi Komsat Lingkup Cabang Bulaksumur. Bukan cuman diskusi bahkan sudah menjadi pemateri LK 1. Sebelumnya dimulai dari Komsat Fisipol di era ku. Kemudian sejak aku selesai mengikuti SC aku sudah mulai memberanikan diri mengisi materi LK 1.

Senior Course adalah salah satu yang paling berpengaruh dalam hidupku yang membuatku berani mengisi LK1. Dari hasil-hasil SC itulah lambat laun LK 1 setiap Komsat di lingkup Cabang Bulasumur mulai diisi oleh generasi-generasi muda.

Bayangkan, sebelumnya pemateri setiap LK 1 selalu dicari dari senior-senior yang sudah jauh dari angkatan kita, akibatnya tidak terjadi regenerasi Master of Training. Master Of Training sendir sebutan bagi pemateri LK1.

Di zaman kepemimpinan mas Irfan di Cabang Bulaksumur diadakanlah Senior Course setelah 10 tahun tidak pernah ada!. Bayangkan sudah 10 tahun tidak pernah ada proses pengkaderan trainer-trainer baru.

Bahkan NDP (nilai-nilai Dasar perjuangan). Suatu materi LK yang dianggap paling sakral sudah mulai digantikan oleh ekamara (JPP 2011) sebelumnya untuk materi ini selalu diisi oleh senior angkatan 1997 kanda Rio Winanda Tanjung, bahkan menurut pemberitahuan senior, bang Rio sudah mengisi NDP sejak tahun 2007 hingga 2015. Betapa mandeknya kaderisasi NDP kita. Tidak hanya Ekamara, bahkan saya sendiri, Yusuf dengan bimbingan dari kanda Roseno sudah berhasil mengisi Materi NDP. tidak hanya BAB 1 bahkan hingga BAB 8 plus sejarahnya.

Aku sendiri pernah mengisi Materi Penganter NDP di LK 1 Komsat Hukum dan Materi NDP di LK 1 Komsat Teknik tahun 2016 ini.

Kedepannya saya memandang ada harapan besar dari kaderisasi MOT di Cabang Bulaksumur dan trend positif ini harus kita teruskan. Salah satunya dengan mengagendakan kembali Senior Course untuk kader-kader selanjutnya.


Selasa, 25 Oktober 2016

IDEOPOLITORSTRATAK

para peserta upgrading IDEOPOLITORSTRATAK



Ini adalah materi yang menjadi ciri khas di HMI. Ideopolitorstratak merupakan akronim dari ideologi, politik, organisasi, strategi dan taktik. Sebuah rangkaian konsep yang disambungkan dengan tujuan tertentu.

Aku kemarin malam diminta menghantar materi ini dalam agenda upgrading Komisariat yang pertama. Materi ini memang sangat menarik, karena membuka wawasan berfikir kita.

apalagi bagi calon-calon politisi yang akan bertarung di medan materi ini biasanya menjadi bekalnya.

Alhamdulilillah anak-anak sangat antusias mengikuti materinya, yang hadir sekitar 20 orang. Bahkan kita kedatangan tamu dari universitas negeri padang (UNP) para kohati angkatan 2013. mereka mampir ke sekre karena disarankan seniornya dori asri wijaya temen sewaktu PPB 8. mereka juga ada di Jogja karena mengikuti acara PPB 10. Kemudian ketiga gadis yang cantik-cantik ini mampir dulu ke sekre karena besoknya mereka mau pulang ke Padang, kecuali satu orang yang lagi eschange di UNY.

Sedang khusyuk mendengarkan materi

Ideopolitorstratak

Materi ini berisi beberapa konsep, seperti ideologi, politik, organisasi, strategi dan taktik. karena konsepnya yang sangat luas dan panjang pembahasannya. di awal sesi aku memberikan peta pemikiran dulu yang diadaptasi dari Pierre bourdieu seorng filsuf kenamaan kontemporer dari Perancis. Peta pemikiran ini aku dapat sewaktu menjadi modertor pak Aprinus Salam ketua pusat studi kebudayaan UGM. Sewaktu mendengarkan ceramah beliau aku sangat terkesan, setelah aku cari tau lagi setelahnya ternyat beliau menjelaskan peta konsep habitusnya pierre bourdieu tentang pembentukan kepribadian individu.

Gambarnya ada di catatanku nanti kalo sempet aku fotoin.

Dari peta tersebut aku menunjukkan bahwa setiap individu manusia kepribadiannya akan terbentuk sejak dia lahir ke muka bumi. dimulai dari kedua orang tuanya, kehiduapan di keluarganya, kemudian lingkungannya. Dilanjut layer dimana negara memberikan pengaruh melalui sistem pendidikan formal. selain itu juga ada pengaruh dari dunia internasional yang berkepentingan merubah kebudayaan dan kepribadian bangsa.

Kehidupan kepribadian seseoarang akan berjalan dalam trajektori. Trajektori ini artinya jalur atau trayek tertentu, tergantung bagaimana seseorang tersebut menentukan strategi dalam hidupnya. dimulai dari dimana dia bersekolah SD, SMP, SMA hingga menapaki bangku kuliah. Semua hal tersebut akan mempengaruhi kebudayaan dan kepribadian seorang anak. Kemudian setelah itu organisasi apa yang dia ikuti, itu juga akan mempengaruhi perjalanan hidupnya.

kepribadian tersebut akan menentukan dimana dia akan berada di masa depan. Karena masa depan adalah sebuah misteri maka kita harus mempersiapkannya dengan strategi dan taktik. Sementara itu, kehidupan awal kita hingga saat ini tidak terlepad dari konstruksi negara yang berkepentingan terhadap setiap individu untuk mendukung sistem sosialnya. pengaruh negera ini kita sebut dengan hegemoni.

itu adalah sesi yang pertama

Sesi kedua, aku menjelaskan tentang Ideologi, darimana diksi itu berasal, definisi dan konsepnya. Aku bertanya pada mereka, "saudara-saudara kita di HTI mengatakan bahwa Islam, Komunis dan Kapitalisme adalah tiga ideologi yang ada di dunia, menurut temen-temen bagaimana?". mulailah muncul berbagi macam pendapat, pertama mengatakan bahwa agama bukan ideologi karena agama adalah teologi.

Sebenarnya diksi ideologi itu memiliki sejarah yang panjang. pertama, munculnya diksi itu karena ada semangat dari para ilmuan untuk memisahkan institusi geraka dan kerajaan. kemudain muncul statemen, berikan urusan agama kepada gereja dan urusan duniawi.


Singkat cereta mereka sangat menikmati materinya dan semua TOR sudah aku berhasil aku jawab. InsyaAllah apa yang sedikir ini memberikan arti bagi kehidupan mereka.



 





Rabu, 19 Oktober 2016

MEMULAI MENULIS

Memulai menulis kalau tidak terbiasa akan berat. seperti sekarang ini harusnya aku nulis artikel tapi karena tiba-tiba mentok aku putuskan untuk menulis blog dulu. sambil ngisi blog yang udah lama ga diisi sayang aja padahal dibuat dari tahun 2009.

memang menulis itu masalah kebiasaan. ketika sudah terbiasa maka akan menjadi ketrampilan. tidak harus sekolah tinggi-tinggi untuk bisa menulis, asal tekun dan konsisten maka tulisanmu lambat laun akan menjadi bagus.

aku termasuk orang yang kurang konsisten, makanya mulai sekarang aku harus berusaha terus buat nulis, apapun itu. tema yang biasanya aku tulis selalu berkaitan dengan politik, karena itulah yang paling aku kuasai. kita mulai dari apa yang paling dikuasai dulu.

Sudah dari dulu merencakan nulis blog tiap malam tapi belum kesampaian.
di sekolah tjokro ini buat memacu diri sendiri aku paksa anak-anak peserta sekolah tjokro buat nulis setiap habis materi di blognya masing-masing.

Selain buat mempopulerkan sekolah tjokro, peserta sekolah tjokro akan merasakan manfaat dari memaksa diri sendiri untuk menulis. Memang dimulai dari keterpaksaan tapi setelah itu kan muncul kebiasaan.

teringat perkataan dari ahmad fuadi, penulis negeri lima menara. Bahwa beliau itu selalu menulis buku harian setiap malam, itulah yang mengasah otot menulisnya. ditambah setelah itu beliau aktif menulis di berbagai media massa. menulis di media massa merangsang kapasitas berfikir dan kejelian menangkap fenomena sosial.

Di komisariat aku juga yang mendorong anak-anak buat menulis di media, salah satu corong langganan kita adalah suara mahasiswa koran sindo. Menulis di suara mahasiswa sangat mudah -bagi yang terbiasa- cukup 450 kata dan temanya sudah ditentukan setiap dua minggu. Setiap kampus pun sudah dijatah, sehingga akan selalu ada tulisan dari kampus masing-masing. Selanjutnya tinggal niat dan kemauan untuk menulis.

Rajin-rajinlah kawan!

Selasa, 04 Oktober 2016

STRATEGIC LEADERSHIP TRAINING

Strategic Leadership Training




Sejak terdaftar sebagai salah satu penerima manfaat beasiswa aktivis nusantara dompet dhuafa, kita mulai dibina dengan rangkaian training. pertama itu namanya FLC (future leader camp), seluruh penerima BA (beasiswa aktivis) diinepin di Bandung, kita disana kurang lebih seminggu di berikan rangkaian materi dan di pantau secara psikologis perkembangan dirinya.

DI lain waktu aku mau cerita tentang FLC. kali ini aku akan bercerita pengalaman selama kemarin ikut SLT (strategic leadership training) di kampung madani dompet dhuafa di daerah parung, Bogor.

Keberangkatan kami ke Jakarta dari Jogja diwarnai oleh drama. Kita kejar-kejaran dengan waktu karena telat naik keretanya.  satu rombongan telat, aku pikir cuman aku, fahmi dan sarah yang telat. jadi alfath, ibnu, sama yusuf sudah di stasiun nunggu. sementara yang mencetak tiket itu kartika.

Dari rumah condongcatur udah kebut-kebutan fahmi bawa motor, aku di bonceng dia,.Ternyata pas sampe depan portal masuk peron, anak-anak pada heboh ke cusomer service buat nyetak tiket lagi. kira-kira dua menit mau berangkat kartika datang dengan tergopoh-gopoh, kita masuklah ke peron di bantu security yang ikutan panik.

pas kita udah mau naik gerbong eh ternyata sarah ketinggalan dan harus nyusul pake kereta selanjutanya. Baru aja kita menginjakkan kaki di gerbong, kereta udah berangkat. nyaris banget ketinggalan kita semua. nyampe stasiun pasar senen kita nunggu dulu sarah sampe jam 3.00 shubuh, abis itu kita nyewa grab dua mobil ke Bogor,

Begitu sampai kami tidur dulu di masjid al-Madina namanya, masjidnya bagus, kepunyaan dompet dhuafa, katanya baru jadi.tidur sampe puas, paginya siap-siap buat acara.



Strategi Leadership Training



Acara SLT diadakan di aula Dzikir Rumah Sakit Terpadu Dompet Dhuafa. Rumah sakitnya besar untuk rumah sakit sosial yang non-profit.

pertama dibuka dengan pembukaan protokoler biasa, yang ga biasa aku lagi-lagi diminta mengisi do'a, kali ini do'a yang diminta adalah do'a kebangsaan. aku udah mempersiapkan do'a ini sejak di kereta api, sewaktu diminta mas Dimas mengisi do'a kebangsaan. referensiku adalah doa politisi Gerindra pasca pidato kemerdekaan presiden di sidang umum MPR. buat dijadikan referensi aja, soalnya isi do;a dan susunan yang aku buat versiku sendiri. aku nyisipin pasal 4 HMI di salah satu bait do'anya, "menjadi insan, akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT". sebuah doa yang baik, untuk diri sendiri, agama dan negara Indonesia.

Abis pembukaan ga ada kata sambutan dari siapa-siapa abis do'a langsung mater. dugaanku karena waktunya molor, soalnya pembukan itu jam 11.00 siang. padahal dalam jadwal harusnya jam 9.00 sudah pembukaan. 

1. Yoyok Riyo Sudibyo

Pak Yoyok Riyo Sudibyo duduk di tengah kemeja biru


Pemateri pertama adalah beliau, beliau adalah bupati Batang 2012- 2017. Pak yoyok terkenal karena beliau mendapat penghargaan Bung Hatta award tahun ini. Sebelunya penghargaan tersebut dipegang oleh Bu Tri Rismaharini pada tahun 2015. penghargaan tersebut diberikan kepada kepala daerah yang berhasil melakukan transparansi dan memberantas korupsi.

Pak Yoyok ini memang unik dilihat dari kesan pertama saja pakainya casual, tidak kaku yang biasanya bapak-bapak pakai seperti batik dan celana bahan plus sepatu pantofel. Kalo dia pake kemeja casual, celana jeans dan sepatu kets, khas anak muda. selain pakaiannya, cara ngomong dan berceritanya juga unik. dia selalu mengeluarkan kata-kata berbahasa Jawa dan mengeluarkan umpatan-umpatan khas Jawa. bagi sebagian orang yang bukan dari daerah Jawa tengah, kata-kata tersebut bakal terdengar asing,

Cara berceritanya juga lucu, ngomongnya ceplas-ceplos. pertama, dia nyeritain perjalanan dia dari kecil sampai lulus dari Akabri, mengabdi di TNI. kemudian sampai kepada dia memutuskan untuk ikut pemilihan kepala daerah. Tapi ternyata kepilih, suatu yang bahkan tidak dia sangka. ini pengalaman baru baginya, sehingga dia memulainya pengalaman di kebijakan publik dari nol.

Dia memberikan kita perspektif bahwa menjadi Bupati adalah jabatan terberat yang pernah dia empan. dia menceritakan bagaimana dalam pemerintahannya dia nyaris tidak bisa mempercayai siapapun. bahasaku dari penafsiran cerita pak yoyok, permasalahan utama beliau adalah di tubuhn birokrasi yang diam-diam mengkhinatinya dan pak yoyok menyadarinya. 

Beliau mengatakan pemimpin adalah orang yang dipilih untuk dikorbankan. berdasarkan pengalaman yang berat selama menjadi Bupati dia berkomitmen untuk tidak maju kembali di pilkada berikutnya. komitmenya ini sempat kami pertanyakan, namun ternyata dia serius, karena dia telah berjanji di hadapan rakyatnya bahwa dia tidak akan mencalonkan dirinya untuk kedua kalinya. 

selain prinsip hidup yang menjadi pelajaran. point yang paling berkesan menurutku adalah, hubungannya dengan ibunya yang sangat dekat, bahkan di usia pak Yoyok yang sekarang dia harus selalu menelpon orang tuanya. di forum pak yoyok bercerita bahwa sudah dua hari dia tidak menghubungi ibunya, kemudian ibunya memarahinyaa,

pelajaran penting selanjutnya adalah kegigihan. yang menyebabkan yoyok berbeda dengan orang kebanyakan adalah kegigihannya. dia sangat gigih dan berpegang teguh pada prinsip. hal ini yang membuat dia menjadi salah satu pemimpin teladan.

terimakasih pak yoyok atas pelajaran berharganya,. terakhir dia pesen kalo dari mahasiswa dia sangat terbuka untuk diundang dan dia juga pesen alat musik biar ketika girilannya berbicara ia bisa memainkan alit musik juga


bersambung ke part 2.......


Jumat, 17 Oktober 2014

DEMOKRATIS ATAU TIDAK DEMOKRATIS

DEMOKRATIS ATAU TIDAK DEMOKRATIS

Berikut adalah Opini singkat saya yang saya tulis dulu ketika merespon hangatnya wacana pemilihan gubernur/Bupati/walikota melalui DPRD, dalam RUU Pilkada yang akan segera di paripurnakan. Seperti yang sudah kawan-kawan ketahui bahwa dalam sidang paripurna Anggota dewan 2009-2014 terakhir tersebut diputuskanlah revisi RUU Pilkada tersebut. Ditetapkannya Pilkada melalui DPRD dihasilkan melalui peristiwa kontroversial walk outnya fraksi Partai Demokrat dari Arena Persidangan, sehingga menyebabkan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) Kalah suara dalam voting melawan KMP (Koalisi Merah Putih). Kekalahan tersebut merupakan awal dari runtutan kekalahan KIH di parlemen dalam melawan KMP. Selamat membaca..



DEMOKRATIS ATAU TIDAK DEMOKRATIS
Faizal Akbar, mahasiswa Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM


            Salah satu peninggalan dari reformasi adalah pilkada langsung. Secara historis.  bangsa Indonesia telah melewati fase yang panjang pemilihan kepala daerah oleh DPRD.  Namun jum’at dini hari (26/9) keputusan sidang parlemen mengesahkan RUU Pilkada menjadi dipilih kembali oleh DPRD setelah selama 10 tahun bangsa Indonesia menikmati pemilu langsung oleh rakyat.

            Sebenarnya baik pemilihan kepala daerah lewat DPRD maupun langsung oleh rakyat sama-sama memenuhi asas demokratis. Namun sebagai anak pemerintahan, penulis mempunyai paradigma sistem yang seharusnya menjadi acuan bagi pembuat kebijakan di negeri ini. Paradigma yang berkaitan dengan sistem pemerintahan dan bagaimana aparatur pemerintahan konsisten dalam menjalankan sistem tersebut sesuai dengan mekanisme dan aturan yang berlaku.

            Pasca reformasi Indonesia berkomitmen untuk memperkuat sistem presidensialisme yang ditandai dengan kepala negara dan kepala pemerintahan hanya satu dan dipilih langsung oleh rakyat. Implikasinya, kepala daerah yang juga kepala pemerintahan mendapatkan langsung oleh rakyat, sehingga ia bertanggung jawab langsung kepada rakyat dan bukan kepada parlemen. Kepala daerah juga tidak bergantung terhadap parlemen baik dalam penyusunan kabinetnya maupun garis-garis besar haluan daerah, sekarang disebut RPJM atau RPJP.

            Sistem Presidensialisme memberikan hak konstitusional kepada kepala daerah untuk dapat menjalankan fungsi pemerintahan di daerah tersebut dengan kewenangan yang besar, yang juga diatur dalam undang-undang, ditambah lagi dengan adanya otonomi daerah. Membuat kepala daerah memiliki banyak keleluasaan untuk memajukan daerahnya. Lantas bagaimana dengan hadirnya UU baru yang mengharuskan kepala daerah dipilih oleh DPRD? Marilah kita analogikan sistem yang telah penulis sebutkan diatas sebagai mobil offroad 4 WD dengan transmisi manual. Dengan membayangkan kendaraan tersebut sudah pasti kita akan melihat mobil berbadan besar, bannya besar dan boros BBM.

            Kemudian mari kita bayangkan mobil Toyota prius, mobil yang katanya paling ecofriendly, karena menggunakan BBM dan juga listrik sehingga sangat hemat bahan bakar. Bertransmisi automatis dan sangat nyaman. Selanjutnya kedua mobil tersebut kita sandingkan. Apakah mungkin saudara menggunakan ban besar untuk offroad ke mobil Toyota prius? Mungkin saja, namun apa yang terjadi? Mobil tersebut tidak akan maksimal. Begitu juga jika kita mengganti persneling mobil 4 WD menjadi otomatis. Padahal mobil tersebut didesain manual. Maka yang terjadi adalah mobil 4 WD tersebut tidak bisa jalan.

            Jika analogi tersebut kita asosiasikan dengan perdebatan pilkada langsung oleh rakyat maupun langsung oleh DPRD. Maka ini berkaitan dengan sistem pemerintahan yang digunakan oleh bangsa ini. Sistem pemerintahan kita adalah presidensil, dengan mekanisme dan alat kelengkapan yang sudah diatur oleh undang-undang untuk menunjang sistem presidensil. Maka ketika ujungnya dari sistem tersebut yaitu kepala daerahnya diganti menjadi bercorak parlementer akan menjadi tidak sinkron. Hal tersebut terjadi karena berkaitan dengan mekanisme pertanggung jawaban kepala daerah, mekanisme penyusunan rencana pembangunan daerah, maupun berkaitan dengan sistem pemerintahan di nasional. Banyak hal yang akan memunculkan kerancuan.

Tidak selaras dengan sistem

            Format demokrasi terdiri dari berbagai macam bentuk. Dipillih atau tidak dipilih itu akan sangat berkaitan dengan sistem yang kita anut. Dipilih langsung atau tidak langsung sama-sama demokratis yang menentukan adalah sistemnya. Apa yang terjadi beberapa hari kemarin, merupakan suatu bentuk tindakan serampangan dari elit-elit parpol yang berasal dari Koalisi merah putih yang terlihat cenderung memaksakan kehendaknya. Beruntungnya lagi dengan koalisi yang solid, tindak tanduk serampangan mereka dalam mensahkan RUU Pilkada berhasil. Mungkin menurut mereka sistem bisa disusun belakangan, yang penting kepala pemerintahannya dulu, hal ini tentu saja sangat berkaitan dengan lanjutan kontestasi pilpres 2014.
Mitos-mitos

            Dari fenomena kemarin setidaknya terdapat 3 mitos yang selalu diperdengankan kepada khalayak baik melalui media cetak maupun elektronik. Pertama, mitos bahwa RUU Pilkada ini merupakan tidak berkaitan dengan pilpres. Padahal sesungguhnya kontestasi di parlemen kemarin merupakan kelanjutan dari kontestasi pilpres antara koalisi merah putih dan koalisi Indonesia Hebat.

            Kedua, Perdebatan demokratis dan tidak demokratis. Selama ini Perdebatan pemilukada via DPRD demokratis selalu dikaitkan dengan sila ke-4 Pancasila dan Pemilukada langsung berkaitan dengan UUD dan kedaulatan rakyat dalam filosofi demokrasi. Namun kedua hal tersebut hanyalah permainan retorika, karena pada dasarnya kedua-duanya sama-sama demokratis, yang menentukan adalah seperti apakah sistem yang kita gunakan dalam pemerintahan. Ketiga, Pemilukada tidak langsung subjektif dan langsung objektif. Sekali lagi itu hanyalah mitos, karena  bukan soal objektif atau subjektif yang menjadi inti dari kontestasi ini melainkan berkaitan dengan sistem pemerintahan.

            Begitulah pertunjukan yang telah dipertontonkan kepada kita semua sebagai bangsa Indonesia. Bagaimana pemerintahan bangsa ini disusun secara serampangan oleh oknum-oknum pencari kuasa. Perihal partai politik, baik itu di koalisi merah putih ataupun Indonesia hebat, kedua-duanya pernah memiliki riwayat dalam mengubah bangsa ini seara serampangan. Ya dulu PDIP  lah yang setuju pemilukada tidak langsung. Sehingga apa yang terjadi kemarin merupakan suatu bentuk ganti peran saja, ada yang memerintah ada yang tidak memerintah dan berusaha merebut pemerintahan. Sebagai anak yang sedang menunggu giliran untuk menggantikan mereka harapanku adalah, tolong jangan sisakan kami puing-puing negara ini.

Jumat, 19 September 2014

SEJARAH PRESIDENSIALISME DI INDONESIA

SEJARAH PRESIDENSIALISME DI INDONESIA



Sejarah Pemerintahan Presidensial di Indonesia dimulai sejak diberlakukannya UUD 1945 pada 18 Agustus 1945 sebagai konstitusi negara. Pelembagaan sistem presidensial itu dimulai bersamaan dengan kelahiran republik Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. tepatnya sehari setelah proklamasi kemerdekaan RI, disahkanlah UUD 1945 sebagai konstitusi tertinggi negara dalam sidang PPKI. sejak 18 Agustus 1945, sistem presidensial secara resmi dilembagakan melalui konstitusi.

Saat itu sistem presidensialisme belum dapat dikatakan murni. namun beberapa karakteristik dalam sistem presidensialisme telah ditetapkan. Sistem pemerintahan saat itu dapatlah dikatakan sebagai cikal bakal bagi lahirnya pemurnian sistem presidensial.


Prinsip-prinsip presidensialisme tertera dalam beberapa pasal UUD 1945. pertama, kedudukan presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. konstitusi menyatakan bahwa presiden RI mendapatkan kekuasaan pemerintahan menurut undang-undang dasar. substansi pasal ini menguatkan posisi presiden sebagai kepala pemerintahan. sedangkan penegasan presiden sebagai kepala negara dijelaskan melalui wewenang presiden dalam memberikan amnesti, abolisi, grasi, rehabilitasi; serta wewenang presiden dalam memberikan gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan. fungsi dan wewenang tersebut biasanya dimiliki oleh kepala negara. substansi fungsi, wewenang dan kedudukan tersebut dijelaskan dalam konstitusi.



kedua, penerapan prinsip pembagian kekuasaan. DPR dan lembaga kepresidenan merupakan lembaga yang mandiri. Hal ini merupakan prinsip atau ciri institusionalisasi sistem pemerintahan presidensial. substansi secara tersirat menyatakan bahwa. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR, artinya kedudukan presiden tidak bergantung kepada DPR. Ditambah lagi konstitusi menyatakan bahwa presiden tidak dapat membubarkan DPR dan sebaliknya presiden tidak dapat menjatuhkan presiden.


ketiga, presiden memiliki hak preogratif dalam mengangkat dan memberhentikan menteri dalam kabinet. konsekuesinya menteri tidak bertanggung jawab kepada DPR namun kepada presiden.institusionalisasi  hak preogratif presiden dinyatakan dalam konstitusi, bahwa menteri dan diangkat oleh presiden. 

ketiga ciri utama sistem presidensial itu telah dirumuskan dalam UUD 1945 dan sejak disahkannya sebagai konstitusi tertinggi negara.

Namun sistem presidensial menurut UUD 1945 sebelum diamandemen, bukanlah merupakan sistem presidensial yang murni. terutama menyangkut mekanis pemilihan dan pemberhentian presiden. mekanisme pemilihan presiden sebelum amandemen konstitusi 1945, belum dipilih secara langsung dan jabatan presiden belum bersifat tetap (fixed term) karena dapat diberhentikan kapan saja oleh MPR.

Referensi

Yudha, Hanta AR (2010) Presidensialisme setengah hati : dari dilema ke kompromi. Jakarta : Gramedia Pustaka




Rabu, 10 September 2014

DESA : PENGERTIAN DAN KONSEP DASARNYA


DESA : PENGERTIAN DAN KONSEP DASARNYA


            Istilah Desa sudah menjadi istilah lumrah diantara kita.Apalagi istilah tersebut kerap kali dipopulerkan dalam buku-buku pelajaran di sekolah dasar. Stereotype  seperti “pulang ke rumah nenek di desa” ataupun “paman datang dari desa” turut membentuk persepsi kita tentang desa. Tulisan ini akan memaparkan secara konseptual apakah yang dimaksud dengan “Desa” dan bagaimana asal pembentukannya. Tentu saja tulisan ini tidak terlepas dari perspektif penulis sebagai mahasiswa ilmu politik dan pemerintahan. Namun penulis akan tetap memaparkan istilah ini secara komprehensif.

Apakah yang dimaksud dengan desa?

            Setidaknya ada tiga pengertian tentang desa. Pertama, secara sosiologis, yaitu suatu bentuk gambaran kesatuan masyarakat atau komunitas penduduk yang tinggal dan menetap dalam suatu lingkungan, dimana diantara mereka saling mengenal dengan baik dan corak kehidupan mereka rrelatif homogeny, serta banyak bergantung kepada kebaikan-kebaikan alam.

            Dalam pengertian sosiologis tersebut , desa diasosiasikan dengan suatu masyarakat yang hidup secara sederhana, pada umumnya hidup dari sector pertanian, memiliki ikatan sosial dan adat atau tradisi yang kuat, sifatnya jujur dan bersahaja , pendidikan yang relative rendah dan lain sebagainya.
Kedua, secara ekonomi. Desa sebagai suatu lingkungan masyarakat yang berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dari apa yang disediakan alam di sekitarnya.

Dari pengertian ini menggambarkan desa sebagai suatu lingkungan ekonomi, dimana penduduknya berusaha untuk memenuhi keburuhan hidupnya. Orientasi pemenuhan kebutuhan hidupnya sendiri dari hasil alam, diistilahkan dengan kata “subsistence” yang artinya, hasil pertanian, perkebunan, sungai dan lain-lain digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat desa tersebut (orientasi kedalam). Batas-batas dalam aktivitas ekonomi ini kemudian diklaim menjadi hak milik desa. Pihak lain tidak boleh menggunakan, mengambil hasil, apalagi mengambil alih segala sesuatu yang dianggap hak milik mereka, tanpa ijin atau persetujuan warga desa.

Ketiga, Pengertian secara politik. Dimana desa merupakan suatu organisasi pemerintahan atau organisasi kekuasaan yang secara politis mempunnyai wewenang tertentu karena merupakan bagian dari pemerintahan negara. Dalam pengertian yang ketiga ini desa ditulis dengan menggunakan huruf awal “D’ besar “Desa”.

            Desa sering dirumuskan sebagai “suatu kesatuan masyarakat hukum yang berkuasa menyelenggarakan pemerintahan sendiri”
Peraturan perundang-undangan RI yang pertama kali secara khusus mengatur mengenai pemerintahan desa secara lengkap adalah UU No. 5 tahun 1979. Dalam UU tersebut pengertian desa adalah:

“ Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat, termasuk didalamnya kesatuan masyarakat hukum, yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia”
Istilah desa merupakan istilah yang berasal dari masyarakat yang ada di Jawa, Bali dan Nusa tenggara Barat. Sedangkan di daerah-daerah lainnya mempunyai sebutan sendiri-sendiri seperti Gampong dan Meunasah (Aceh), Huta dan Huria (Tapanuli), Nagari (sumatera Barat), Marga ( Sumatera Selatan), Benua (Kalimantan), Kampung (Sulawesi), Negeri (Maluku) dan lain-lain.

Mana yang lebih dahulu ada, Desa atau Kota?

            Dalam sejarah peradaban manusia, Desa adalah suatu bentuk organisasi kekuasaan yang pertama kali ada sebelum lahirnya organisasi kekuasaan yang lbeih besar seperti kerajaan, kekaisaran dan negara-negara modern sebagaimana kita kenal dewasa ini.

Alurnya adalah, manusia sebagai makhluk sosial akan selalu hidup berkelompok. Dimulai dari unit yang paling kecil yaitu keluarga batih (terdiri dari suami, isteri dan anak). Ketika keluarga itu bertambah banyak maka sebagian ada yang memisahkan diri dan membuat tempat tinggal sendiri. tempat pemukiman mereka semakin lama semakin besar dan penghuninya pun semakin banyak. Baik dari anak keturunan mereka sendiri yang mempunyai banyak anak dan menikah kemudian bermukim disitu, maupun dari orang lain yang bermukim di tempat tersebut. Lahirlah kemudian kesatuan masyarakat hukum yang mandiri. Pemimpin mereka biasanya adalah yang tertua atau yang mempunyai kemampuan paling tinggi diantara mereka –bisa jadi paling kuat, paling pintar, paling besar tubuhnya dan lain-lain- itulah sebabnya desa-desa lamayang masih asli, selalu terdapat dua unsur yang memenuhinya yaitu ikatan genealogis dan kesatuan wilayah.

            Secara genealogis, penduduk suatu desa pada umumnya mempunya ikatan pertalian darah yang kuat, karena mereka berasal dari keturunan yang sama ataupun jika ada yang berasal dari luar mereka sudah terikat dalam ikatan perkawinan dengan penduduk asli desa itu. Maka cobalah cek silsilah di desa-desa yang nenek kakek saudara tinggali maka seingkali asal usul desa tersebut berawal dari satu atau beberapa keluarga saja.

            Kemudian, kesatuan wilayah. Wilayah desa selalu merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisah-pisah, sehingga tidak ada satu enclave dalam suatu desa yang menjadi bagian desa lain yang berbeda.

            Dalam konteks politik, sebagai kesatuan masyarakat hukum, desa mengurus kehidupan mereka secara mandiri (otonom) dan wewenang untuk mengurus dirinya sendiri itu sudah dimilikinya semenjak kesatuan masyarakat hukum itu terbentuk tanpa diberikan oleh orang atau pihak lain. Dari sinilah mengapa “Desa” disebut memiliki otonomi asli, yang berbeda dengan “daerah otonom” lainnya seperti kabupaten, karesidenan dan provinsi yang memperoleh otonominya dari pemerintah pusat atau pemerintah nasional.

            Desa-desa tersebut berkembang dan semakin lama semakin besar dan kuat , sehingga kemudian lahir keinginan untuk meluaskan daerah desa lainnya. Penguasaan tersebut bisa melalui jalan damai ataupun perang, kemudian desa yang dikalahkan tersebut menjadi bagian dari desanya. Lalu secara bertahap tumbuh organisasi kekuasaan yang lebih besar. Pada mulanya berawal dari desa kecil, kemudian kerajaan kecil dan akhirnya menjadi negara seperti yang kita kenal sekarang.

            Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya tersebut, kedudukan “Desa”  sebagai kesatuan masyarakat hukum yang otonom  semakin lama semakin menurun statusnya menjadi sub-sistem dari institusi yang lebih besar. Sehingga dalam piramida kekuasaan dewasa ini, desa berada di urutan yang paling bawah atau menjadi bagian dari struktur kekuasaan yang paling rendah.

Jadi Lebih dahulu Desa baru kota, maka banggalah menjadi orang desa J.

Referensi

Maschab, Mashuri (2013). Politik dan Pemerintahan Desa di Indonesia. Yogyakarta: PolGov.  Laboratorium Politik dan Pemerintahan UGM
Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Sample Text

Pages

Mengenai Saya

Foto saya
jogjakarta, DIY, Indonesia
Mahasiswa Politik dan pemerintahan , Fisipol, UGM

Pengikut